Showing posts with label Event. Show all posts
Showing posts with label Event. Show all posts

STUNED Refresher Course on Main streaming Disaster Risk Reduction into Spatial Regional Planning

Pengarusutamaan prinsip pengurangan risiko bencana dalam perencanaan spasial telah menjadi kebutuhan bagi Indonesia. Aplikasi Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh dapat menjadi piranti penting untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan dalam rangka pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pengurangan risiko bencana. Sebagai respon terhadap kebutuhan tersebut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan Fakultas Teknik UGM menyelenggarakan STUNED Refresher Course dengan judul: Mainstreaming Disaster Risk Reduction into Spatial Regional Planning dengan peserta para profesional dari instansi pemerintah misalnya BPPT, PVMBG, Bakosurtanal, Pemerintah Daerah dan BNPB. Kursus Kursus diselenggarakan mulai tanggal 10 Oktober sampai dengan 21 Oktober 2011 dengan panitia lokal oleh

Jogja Street International Performance 2011



Seperti hari-hari biasanya, pagi ini berangkat ke kampus teknik UGM. Agak terburu-buru hari ini.. Empat tahun kuliah di UGM, baru kali ini jalanan menuju kampus khususnya jl. Kesehatan macet total. Ada apa gerangan???

***
Tak pernah berubah, dosen ini selalu menawarkan bukunya saat mengajar. Cara mengajarnyapun terkesan membosankan. Seperti "dejavu" diajarkanya, maklum kali ini aku mengikuti mata kuliah yang pernah saya ambil semester awal lalu.
Beliau mulai mempraktekan cara kerja alat pengukur sudut. Sruut!!.. Ikat pinggangnya mulai dicopot, mahasiswa baru mulai bergerumuh. Sekilas terdengar suara-suara teriakan mahasiswa cewek "aw.." ada pula yang.. "hah.." dan juga tertawa terbahak-bahak. Sekali lagi, Dosen ini bukan akan melakukan apa, tetapi hanya mempraktekan cara kerja alat pengukur sudut. Ikat pinggang mulai di pegang, selanjutnya badan mulai berputar kekiri kekanan seperti orang berjoget. Otomatis para mahasiswa tertawa terbahak-bahak.

***
Sambil makan, kami duduk bersama di loby. Sejenak mulai membicarakan kemacetan pagi tadi. Ternyata hari ini adalah hari JISP, sebuah acara pementasan seni internasional yang diadakan di jalan kaliurang (area kampus UGM). Sore ini aku bersama yeni & tegas meliah acara tersebut. Buset!! Jalanana rame minta ampun.. Berdesakan kesana kemari, tapi semua terbayar dengan bagusnya penampilan JISP.

***
hari kedua JISP diadakan di hall center gedung taman budaya yogyakarta। Tak kalah bagus dengan penampilan kemarin. Tarian kotemporer, musik, etc dari berbagai negara dipadu dengan "lighting" yang pas menciptakan sebuah penampilan yang luar biasa. Malam ini serasa berada di beberapa negara.

foto by senoaji



HUT JOGJA Ke-225


Buat agan2 yang suka nonton acara seni, ni saya rangkumin rangkaian acara HUT Jogja ke-225..

1. Tgl 6 Oktober jam 22.30 Night Ride Kerlap kerlip ngiring calon penganten putri bungsu Sultan HB Ke X dengan rute dari Alun alun Utara menuju Tugu dan tepat pukul 00.00 akan diadakan perayaan Hut Kota bersama Walikota Jogja.Diperkirakan sepuluh ribu peserta penggemar sepeda akan ikut ambil bagian bersama calon pengantin dari Kasultanan Ngayojokarto Hadiningrat. (START) setiap kelurahan -balaikota (FINISH)

2. Tgl 7 Oktober jam 09.00 wib FESTIFAL BERBUSANA JAWA GAYA JOGJA @balaikota,

3. Tgl 7 oktober jam 14.00 wib Pawai Mozaik Jogja yang akan diikuti sekitar tiga ribu peserta dari pejabat pemerintah daerah, instansi swasta dan anggota TNI serta masyarakat dan kelompok seni. (START) Alun-alun Utara – Jl Trikora – Jl P. Senopati – Jl Sultan Agung – Jl Kusumanegara – Jl Ipda Tutharsono dan Balai Kota (FINISH

4. Tgl 8 Oktober s/d 21 Oktober Festival Kelurahan dengan menampilkan potensi seni, budaya dan ekonomi yang ada di 45 kelurahan dan terbuka untuk umum.

5. tgl 9 Oktober jam 08.30 di Balai kota Yakni Fashion dan lomba berbusana batik (balaikota 10.00 wib), lomba mewarnai dan melukis (balaikota 08.30 wib).

6. Tgl 15 Oktober 2011 jam 14.00 wib Parade Drumband Nusantara start dari halaman Gedung DPRD DIY menuju Alun alun Utara.

7. TGl 16 Oktober jam 06.30 Bike Contest Comunity setiap kelompok pencinta sepeda minimal 15 orang dapat ikut ambil bagian start dari Balai Kota dan Finish di Balai Kota.

8. tgl 16 Oktober s/d 21 Oktober juga akan diselenggaraklan Kejuaraan Drumband Tingkat Nasaional di Stadion Mandala Krida dan GOR Amongrogo Yogya.

9. Puncak HUT JOGJA "MAGNIFIENCE WORLD", Jogja Java Carnival tgl 22 Oktober 2011 mulai jam 19.00 wib s/d jam 23.00 (START) dari Taman parkir Abu Bakar Ali sampai dengan Alun alun Utara (FINISH). Untuk pertama kalinya ticket dengan tempat duduk dijual untuk umum.Ticket VIP Rp 500.000 di Alun alun Utara dan ticket Rp 150.00 untuk didepan Benteng Vandenberg.
menampilkan:
gemerlap cahaya 8 keajaiban dunia
1. Patung Liberty
2. Menara Eifell
3. Piramida + Spinx
4. Kota Terlarang
5. Sleeping Budha
6. Taj Mahal
7. Menara Pisa
8. Akropolis & Kuda Troya

jangan lupa siapin kamera tentunya + cadangan batre + bawa makanan kecil n minuman.. hhahaha.. Sayang kalo gak bawa kamera, gak ada LPJ acara ntar... ckckck..

matur nuwun.
salam jepret!

sumber: http://www.jogjajavacarnival.com/

Continuous Education and Professional Development 2011 for PEJUTA Malaysia

Kegiatan ini merupakan kursus singkat tentang disaster management yang diorganisir oleh Jurusan Teknik Geodesi UGM. Kegiatan yang berjudul:

"Continuous Education and Professional Development 2011 for PEJUTA Malaysia"
Authorised Land Surveyors Malaysia
A Short Course on Geospatial Sciences & Technologies for Disaster Management

diikuti oleh ikatan Surveyor Malaysia yang bernama PEJUTA (Persatuan Jurukur Tanah Bertauliah Malaysia). Materi yang diberikan dalam kursus singkat ini diantaranya:


- Government Policy in Disaster Management (Head of Prevention Division, BNPB)
- The roles of Surveying Profession in Disaster Management :survey & mapping activities for mitigation, emergency and response activities
- Geodesy and Geomatics Technology in Disaster Management :GPS/GNSS and Aerial Photograph for survey and mapping for disaster management, Hazard Modeling and Risk Assessments with GIS
- GIS & Geomatics Technology for Disaster Management
- Boundary Reconstruction Case Studies:Aceh
- Outlook and professional development in disaster management activities
- visit the impacted rural area (cangkringan and magelang), urban area (kali code)


Dari kiri: Dr.Syamsul Ma'arif (kepala BNPB), Dr.Noordin (Malaysia), Ir. Tumiran M.Eng., Ph.D (Dekan Fak.Teknik UGM)




Mengunjungi daerah Cangkringan


Mengunjungi Hunian Sementara (HUNTARA) pengungsi di Magelang


Mengunjungi Kali Code


COMMITTEE in ACTION

@ University Club UGM


@ Cangkringan


@ Borobudur#1


@borobudur#2


@borobudur#3


@ Boyong Resto Kaliurang


@Diner at Prambanan Garden (Ramayana Balet)

Sampai ketemu di CEPD selanjutnya.. \(^,^)/

Diklat Jurnalistik 2010 #part4

Hari ini terakhir hari terakhir DJ 2010. Tiga hari hanya seperti sekedipan mata. Saatnya penilaian hasil karya tim kelompok 9, si koran "POROS" namanya. Benar, koran kami bagai gubuk tak bernilai dibanding dengan koran lain bak rumah mewah. Tak mau putus asa, tak mau minder dengan rumah mewah itu. Semangat si Amin, Arbyan, Vena, Vinda, dan Dhian terpancar di matanya.
Para juri mulai melontarkan celotehan-celotehan panasnya, satu per satu mulai dari kelompok satu. Si Poros paling banyak mendapatkan celotehan, tetapi sesuatu hal aneh terjadi. Tiap kali mereka mencela si Poros, listrik langsung mati, kemudian saat mencela yang lain hidup. Saat kembali mencela si Poros lagi, listrik mati lagi. "itu akibatnya berani-beraninya nyela si Poros" celotek si Arbyan, dan kami sekelompokpun tertawa.
Jarum jam dinding itu terlihat telah berputar 180', diikuti pengumuman juara dari moderator. Kelompok kami tak disebut-sebut, tak lama kemudian si Poros disebut sebagai juara 3 kamipun serentak berteriak meluapkan kegembiraan. Tak menyangka si Poros yang banyak mendapatkan celaan mendapat gelar Juara 3. Setelah selesai acara,kami makan bersama dari hasil hadiah.

Thank's teman-teman atas kerjasamanya,..

Saat seminar



Saat menempel hasil kerjaan pada kertas koran



Saat penerimaan hadiah


sama si Poros, Vinda ama si Dhian gak ikutan foto


Ini dia si Poros

Diklat Jurnalistik 2010 #part3

Saatnya mencari berita di lapangan layaknya seorang wartawan profesional. Dengan sebuah tanda pengenal yang kugantungkan di leher, sebuah bolpoint di saku, dan sebuah bloknote di tangan aku mulai berangkat mencari berita. Sebelumnya aku telah merencanakan berita yang akan kuangkat. Aku memilih pembuatan ruas jalan baru dan pembangunan pagar MM-UGM sebagai topik yang akan kuangkat. Dengan ditemani seorang teman aku langsung bergerak dengan penuh semangat menuju MM-UGM. Merasa seperti orang bodoh setelah sampai. Mau bertanya kepada siapa ya?

Tak mau kelihatan bodoh seperti itu, langsung saja aku bertanya kepada satpam setempat. "pak, mau tanya.. yang berwenang dimintai keterangan dalam pembangunan ruas jalan dan pembangunan pagar ini siapa?" kemudian bapak satpam itu menjawab "langsung saja kebagian umum dek". Segera aku mencari dan menuju kebagian umum. Setelah sedikit berbincang bincang dengan bagian umum ternyata aku disarankan bertanya kepada Direktur Pengelolaan dan Pengembangan Aset yang terletak di kantor pusat. Tanpa pikir panjang langsung menuju tempat yang disarankan oleh bagian umum MM-UGM tadi. Siang ini benar-benar panas, fatamorgana terlihat disepanjang jalan. Setelah sampai di tempat yang dimaksud, aku langsung menuju ruangan Direktur Pengelolaan dan Pengembangan Aset. Seorang petugas menghampiriku, kemudian bertanya maksud kedatanganku. Mulailah aku menjelaskan maksud dan tujuanku, kemudian petugas tersebut menyodoriku selembar kertas kecil bertuliskan identitasku dan keperluanku beserta pertanyaan-pertanyaan yang akan kutanyakan sekitar topik yang kumaksud.

Sedikit patah semangat setelah petugas memberitahu bahwa Direktur Pengelolaan dan Pengembangan Aset sedang ada pertemuan dan baru bisa diwawancara pukul 13.00 WIB. Mau tak mau aku harus menunggu selama dua setengah jam-an. Daripada menunggu bengong disini aku memutuskan mencari makan dahulu. Dalam perut ini sudah terdengar parade musik keroncong yang terdengar semakin keras.
Sekarang tepat pukul 12.50 WIB aku segera kembali ke kantor Direktur Pengelolaan dan Pengembangan Aset. Setelah bertemu dengan orang yang dimaksud aku merasa senang. Berharap mendapatkan informasi yang kubutuhkan. Betapa terkejutnya aku, badanku langsung lemas seperti tak bertenaga lagi. Sedikitpun aku tak mendapatkan Informasi, dan disarankan bertanya kepada Direktur Perencanaan dan Pengembangan.

Sedikit kesal, tapi mau bagaimana lagi. JIka aku tak mendapatkan berita aku pasti dianggap gagal dalam pelatihan jurnalistik ini dan terancam tak akan mendapatkan sertifikat. Karena kantor yang dimaksud terletak satu komplek dengan kantor Direktur Pengelolaan dan Pengembangan Aset aku menuju kantor tersebut dengan berjalan kaki. Alhamdulillah, Direktur Perencanaan dan Pengembangan sedang ada ditempat. Aku bisa langsung mewawancarai, raut wajahku mulai nampak ceria. Segera aku lancarkan serangan pertanyaan bertubi-tubi. Akhirnya aku mendapatkan sedikit informasi yang aku butuhkan. Tetapi keceriaan itu tak bertahan lama, bagaimana tidak aku disarankan lagi bertanya kepada orang yang tepat yaitu Direktur Pengawasan. Benar-benar kesal sekesal-kesalnya. Dalam hati berbicara, "sabar rend, kamu harus kuat! ingat kamu sudah rela balik ke jogja demi mengikuti pelatihan ini, sudah kesana kemari mencari berita, sudah setengah perjalananmengikuti pelatihan, apa kamu mau menyerah begini saja? apakah tidak sia-sia kamu selama ini? apa kemampuanmu hanya sebatas ini? lalu bagaimana dengan materi dan sertifikat yang kamu nantikan juga? aku tak henti-hentinya mengutuk diriku. Dengan memantapkan diri aku langsung mencari tempat yang dimaksud. Aku bahagia, gembira, informasi yang kubutuhkan sudah lengkap.

Saatnya perjalanan menuju tempat pelatihan dan mengikuti acara selanjutnya. Ditengah perjalanan aku ingat sesuatu, aku membutuhkan informasi dari polisi lalu lintas sebagai data tambahan. Aku segera tancap gas menuju pos polisi, tak banyak hambatan dalam hal ini. Tanpa basa basi aku menanyakan pertanyaan yang kuinginkan. Sekarang telah pukul 14.00 WIB aku sudah telat dari jadwal yang ditentukan. Aku tetap harus menuju tempat pelatihan. Sesampainya disana dengan nafas yang terengah-engah aku menghampiri kelompok 9, yaitu kelompok pelatihan jurnalistikku yang beranggotakan tujuh orang. Arbyan U.R.L dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Dhian Ayu M dari Fakultas Pertanian UGM, Dwi Astuti seorang guru Bahasa Indonesia dari Wonosobo, Fransisca V.A dari Fakultas Ekonomi Budaya UGM, Nurul Amin dari Fakultas Ilmu Lingkungan UPN, dan Vinda Nur A dari Fakultas Teknik Sipil UGM. Dari ketujuh orang hanya aku yang belum selesai melakukan penulisan berita dari hasil wawancara, karena memamng aku baru selesai mendapatkan informasi.
Tepat pukul15.00 WIB ini aku harus selesai menulis berita dengan baik dan benar sebanyak minimum 2500 karakter sesuai dengan ketentuan. Dua menit sebelum deadline yang telah ditentukan aku berhasil menyelesaikan tulisanku, aku langsung berlari mengumpulkan berita kepada panitia. Leganya hatiku..

Sekarang baru tahu bagaimana perjuangan mencari sekelumit informasi demi sebuah topik berita, betapa mahalnya sebuah informasi. Bayangkan, berapa puluh topik berita dalam sebuah koran, itupun belum melalui proses pengeditan kata dan layout. Pantaskah sebuah koran hanya dihargai Rp.3000,- bahkan ada yang Rp.1000,-?
Ada lagi yang membuatku terheran, sebuah koran selalu terbit tiap hari dan sudah beredar pada pagi buta dari kota sampai ke pelosok desa. Padahal berita didalamnya ada juga yang merupakan kejadian pada malam hari itu.

Diklat Jurnalistik 2010 #part2

Jam dinding pun tertawa, dan aku hanya bisa terpana melihatnya. Kuturunkan kaki dari tempat tidur dan mulai menuju kamar mandi dengan peralatan mandi ditangan. Nampaknya tubuhku mulai segar, dan aku siap mengikuti hari pertama pelatihan jurnalistik. Segera aku mengeluarkan motor dari bagasi. Sedikit ada masalah, motor yang tak dipakai selama kurang lebih dua minggu membuat sedikit demi sedikit keringatku keluar bercucuran. Terpaksa aku harus jalan kaki mengingat waktu telah menunjukan dimana aku harus melakukan regestrasi ulang. Sedikit memperlebar langkah dan mempercepatnya. Enak juga ternyata, jalan kaki dipagi hari dengan menghirup udara yang belum banyak tercemar asap-asap kendaraan bermotor. Kurang lebih sekitar sepuluh menit perjalanan menuju tempat pelatihan itu, hanya sekitar 800 meter saja dari tempat kosku. Akhirnya sampai di KPTU FT-UGM tempat dimana diadakannya pelatihan jurnalistik. Aku mulai menghampiri tempat regestrasi ulang.

Sebuah pas foto berukuran 3x4 dan selembar copyan kartu identitas aku keluarkan dari dalam dompetku. Dengan sedikit senyuman kuberikan foto dan identitasku pada seorang perempuan yang bertugas mengurusi regestrasi ulang pelatihan jurnalistik. Sudah pasti, perempuan berjilbab itu membalas dengan senyuman pula. Sembari menunggu perempuan berjilbab itu mengisi data, aku merapikan pakaianku yang sedikit kurang rapi. Pengisian data sudah selesai, kemudian aku mulai menuju ruangan dimana menjadi tempat pelatihan jurnalistik. Di pintu masuk ruangan itu nampak ada sejumlah orang yang bertugas menyambut peserta pelatihan jurnalistik. Sebelum aku memasuki ruangan tersebut, petugas itu memberikan sejumlah barang padaku. Diantaranya Sebuah stopmap berisikan kartu peserta jurnalistik, jadwal pelatihan selama empat hari, modul, koran dan tak lupa snack.

Pembukaan pelatihan jurnalistik ini dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana dan ketua-ketua yang lain. Entahlah aku lupa ketua apa saja. Selanjutnya mulai pengenalan tim diklat dan penyampaian beberapa materi tentang dunia jurnalistik. Materi itu disampaikan oleh beberapa orangpenting dari koran kompas. Diantaranya Lui Iswara, Pepih Nugroho, Wisnu Nugroho, Cahyono, Santoso, dan Pujo. Beliau-beliau ini menyampaikan berdasarkan bidangnya masing-masing seperti koran dalam dunia maya, kewartawanan, tata letak, fotografi dan lain sebagainya. Sungguh terheran, sampai-sampai iba mendengar pengalaman mereka. Menjadi wartawan bukanlah semudah yang dikira, wartawan itu panggilan hati. Bayangkan, ketika seorang anak kecil yang lucu-lucunya, senang-senangnya, gembira-gembiranya, asik-asiknya bermain atau menikmati masa keceriaannya bersama dengan sang ayah atau sang bunda akan sirna ketika ditinggal oleh sang ayah atau sang bunda demi mencari berita untuk kepentingan umum. Lalu bagaimanakah perasaan orang tua yang meninggalkan anak-anak mereka demi pengabdiaannya sebagai wartawan? tentulah hanya mereka yang bisa merasakannya.

Lelah tapi bermanfaat, akhirnya selesai juga hari ini. Dengan muka yang cukup "kucel" dan kelihatan capek aku pulang menuju kos dengan berjalan kaki. Aku tak percaya, kos yang hanya terletak sekitar 800 meter dari tempat pelatihan ini terasa amat jauh. Sepertinya aku telah melangkah ribuan kali tapi belum juga sampai. Mungkin perasaanku saja, karena capek. Tiba-tiba perasaan ini terasa damai, layaknya orang berjalan di padang pasir yang melihat air. Tetapi bedanya aku melihat kasur beserta bantal dan guling yang ada di kamarku seperti memanggilku dan memintaku segera menidurinya. Segera aku meloncat diatasnya dan meniduri dengan penuh hawa nafsu.

Banyak yang kudapat hari ini, berbagai pengetahuan tentang jurnalistik. Hard news, Soft news, Feature menjadi hal yang tak asing lagi ditelingaku. Apalagi tentang teknik penulisan berita yang berisi "Lead" yang merupakan tulisan pembuka yang menujukan pokok permasalahan berita dan merupakan daya tarik dari sebuah tulisan, "Body" yang berisikan fakta, data, latar belakang. dan "Ending" yang berisikan tentang keterangan tambahan. Semua itu seperti sudah hafal diluar kepala.

Diklat Jurnalistik 2010 #part1

Berawal dari sebuah pesan pendek yang kuterima dari Tita "Aslm.tmn2 geodeta,ada diklat jurnalistik tgl 3-6 feb @KPTU,.....". Dia adalah seorang perempuan bejilbab dengan prinsipnya yang kuat dan hati yang tak bisa dikatakan sebagai hati biasa. Sikap Kepeduliannya terhadap apa yang sudah menjadi tanggung jawabnya dan keahlianya dalam berbagai bidang memungkinkan seseorang aku untuk mengaguminya. Siapa sangka juga perempuan asli Lampung ini sangat piawai menggerakkan jari-jemarinya dalam alunan piano, tak jarang juga menggerakkan tangannya untuk menggesek sebuah biola dalam sebuah orkestra. Memberikan sekelumit info untuk para anggotanya tak pernah dilupakan oleh perempuan yang pernah berkomitmen akan keluar dari anggota GEODETA jika sandangan ketua tidak dijabatnya. Bagi orang awam, mungkin komitmen tersebut seperti keegoisan diri. Tapi dibalik keegoisan diri itu, ada sesuatu yang ingin diwujudkan. Perubahan diri dari GEODETA untuk menjadi tempat pembelajaran jurnalistik di Teknik Geodesi UGM dengan benar. Memang, dari awal aku bergabung menjadi anggota tidak banyak hal yang aku dapatkan, desain, layout, fotografi, hanya itu sedikit yang aku bisa. Seharusnya aku juga tahu cara menulis dengan ejaan yang benar, menarik, dan informatif. Tetapi aku tak mendapatkannya.

Setelah aku menerima dan mebaca pesan pendek tersebut, sedikit rasa hati ini berbungah. Kesempatan langka dapat berlatih langsung menjadi seorang jurnalis, mewawancarai, menulis, praktek peliputan, penataan layout, dan hal-hal lain yang menyangkut kegiatan kejurnalistikan. Berharap sikap 'nervouse'ku dapat hilang saat setiap kali melakukan pembicaraan dengan orang lain yang kuanggap lebih dari aku. Langsung dengan semangat jari-jemariku membalas pesan tersebut dan bersedia mengikuti kegiatan jurnalistik yang memerlukan biaya pendaftaran sebanding dengan biaya pergi pulang Nganjuk-Jogja menggunakan bus patas. 'Free cost' untuk anngota GEODETA juga menjadi salah satu daya tarikku.

Malam ini, aku mempersiapkan segala sesuatu yang akan kubawa esok pagi, kaos, baju, celana panjang, pakaian dalam sudah tertata rapi didalam tas punggungku. Tak lupa juga sebuah sandal yang baru saja kubeli saat berlibur ke Surabaya. Semakin lama, akupun mulai terlelap dalam indahnya bunga tidur yang mendampingi lelapku.

Lama setelah itu, suara adzan shubuh nan merdu dikumandangkan mengusik telingaku seolah mengajak aku segera menjalankan panggilan suci itu. Matahari mulai sedikit menampakkan sosoknya, seperti biasa segelas susu coklat hangat selalu ada di meja dapur. Tak ada lelahnya ibu menyiapkan segala kebutuhan demi anaknya, begadangpun sering dilakoni hanya untuk anaknya tercinta. Sedikit teringat lirik lagu Iwan Fals "...ribuan kilo jalan yang kau tempuh, lewati rintang demi aku anakmu...." mungkin seperti itulah gambaran perjuangan seorang ibu.

Rentan beberapa menit mempersiapkan diri dan beres-beres, aku sudah siap meninggalkan kota angin ini. Sebelumnya bapak memberikan sedikit uang saku untuk kebutuhanku, langsung saja aku memasukan uang itu dalam sakuku. Tidak cukup banyak, hanya beberapa lembar uang seratus ribuan dan lima puluh ribuan. Setelah itu aku mulai berjalan kearah ibuku, kuraih tangannya lalu kucium sambil berpamitan. Bapak sudah menghidupkan vespa kesayangannya, konon vespa itu kendaraan kenangan masa mudanya bersama ibu. Tak pernah terpikir dalam pikiran bapak untuk menjualnya, walaupun garasi telah penuh dengan roda dua. Dengan santainya bapak mengendarai kendaraan kesayanganya menuju tempat pemberhentian bus. Pagi ini benar-benar sejuk, diperjalanan berlalu lalang anak berseragam dengan semangatnya mengayuh sepeda. Sepuluh menit kemudian kami sampai pada pemberhentian bus. Dalam beberapa menit nampak sebuah bus dari kejauhan dengan tulisan khasnya CEPAT AC. Mungkin maksud dari tulisan itu menandakan bahwa bus tersebut berjalan cepat dan didalamnya menggunakan AC.
Seperti halnya yang kulakukan pada ibu, aku juga meraih tangan bapak sambil berpamitan. Bus itu semakin dekat, kulambaikan tanganku untuk menghentikan laju kencangnya. Sudah kukira, bus ini selalu berhenti melebihi tempat aku berdiri. Dengan sedikit kesal aku berlari menuju pintu yang telah dibuka oleh kenek bus. Sambil menoleh kearah bapak perlahan aku masuk kedalam bus. Nampak sepi rupanya, akupun mecari tempat duduk di bagian tengah. Tak tahu kenapa aku merasa aman saja bila duduk di tengah. Memang tidak bisa dilogika duduk ditengah selalu aman, tapi itu naluriku.

Tak lama kemudian kenek itu menghampiriku sambil membawa segelas air mineral. Dengan sedikit senyuman kemudian si kenek memberikan air mineralnya sambil bertanya "mau pergi kemana mas??". Dengan sedikit senyuman pula aku menjawab "Jogja pak!", selanjutnya ia membalas "44 ribu mas.." aku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan kemudian memberikannya. Kenek itu memberikan kembalian uang dengan dua karcis, satu berwarna hijau untuk karcis perjalanan dan satu lagi karcis berwarna merah untuk ditukarkan dengan makan saat berhenti di rumah makan nantinya.

Perjalanan selama lima jam membuatku jenuh didalamnya, tak sadar aku sesering memejakan mata. Mataku mulai sayup-sayup, perlahan akhirnya aku memejamkan mata. Mungkin sekitar kurang lebih satu jam aku tidur, sedikit membuka mata aku menoleh kearah jendela dan berusaha mengenali daerah setempat. Karena tak mengenali daerah ini, mataku mulai melirik alamat-alamat yang biasa ditulis dibawah nama toko yang ada di sepanjang jalan. Dengan begini aku pasti tahu daerah ini daerah mana. Setelah menemukan jawabannya, ternyata baru sampai daerah Ngawi. Karena rumah makan tempat bus ini berhenti ada di daerah Ngawi aku tak lagi memejamkan mata. Tak lama kemudian bus itu berhenti disebuah rumah makan, Rumah Makan Duta namanya.

Dalam rumah makan ini tertata rapi beberapa kursi dan meja lengkap dengan nomor diatasnya. Meja dengan nomor 30 menjadi pilihanku, karena letaknya yang berhadapan dengan televisi. Seseorang dengan pakaian yang cukup rapi menghampiriku, tak banyak bicara aku memberikan karcis berwarna merah dengan tulisan menu di karcisnya sambil mengucapkan "rawon mas..". Dari beberapa menu yang tertulis rawon selalu menjadi pilihanku, semangkuk nasi dengan kuah agak hitam bercampur potongan daging sapi didalamnya. Dengan cepat aku segera menuntaskan makanku dan langsung kembali ke dalam bus. Cukup kenyang perutku, begitu juga dengan penumpang lainnya setelah kenyang pastilah mereka tertidur satu persatu, tak juga aku.

Tertidur, terbangun, tertidur lagi, terbangun lagi, dan seterusnya dan seterusnya. Tak lama kemudian akhirnya tiba juga di Jogja, sebuah kota yang penuh akan nilai seninya, cocok untuk seorang aku yang tak bisa jauh dari kehidupan seni. Dibawah jembatan layang Janti bus ini berhenti. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju kos menggunakan angkutan kota dengan plat nomor 7. Sebuah angkutan yang akan dihilangkan keberadaannya dan digantikan dengan Transjogja, bus kota yang terstruktur dan lebih tertata seperti halnya di kota-kota besar. Selama kurang lebih lima belas menit nomor 7 ini sampai di bundaran Fakultas Teknik UGM tempat berhenti biasanya. Selanjutnya aku berjalan kaki sejauh 500 meter menuju tempat kosku, sampailah aku digubuk kecilku.