Akhir Penantianku



Hari ini, tepat hari yang sudah lama aku tunggu. Memang bukan hari yang terlalu berarti bagi orang lain, tetapi tidak untukku. Kurang lebih empat tahun silam, itu untuk pertama kalinya. Tetapi bukan itu yang kumaksud. Tiga tahun silam yang menjadi awal mulanya.
Minggu itu menjadi perjalanan untuk kali pertama, berkaos putih, bercelana panjang hitam, berjaket merah muda dan sebuah kalung berliontin miniatur keris dilehernya. Semua terekam lengkap oleh retina mataku. Beberapa detik setelah itu, sebuah kejutan kecil yang membuatku mulai sedikit kecewa. Harusnya aku tidak mengajaknya. Sejenak pikiran itu hilang larut dalam keceriaan tiga buah insan.
Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan hingga berganti tahun pikiran itu sedikit demi sedikit mulai muncul karena kebohongannya. Kebohongan yang seharusnya tidaklah pantas dilakukan kepada seorang sahabat demi memenuhi hasratnya. Terlanjur, semua bagaikan air dan minyak yang tak pernah bisa untuk menyatu.
Satu tahun yang lalu, keadaan menjadi berbeda. Waktu seperti tak bergerak sedikitpun, semua yang ada seperti menjadi milikku. Mungkin seperti di surga dengan berbagai kenikmatannya. Tak menyangka bisa menjadi bagian dari hidupnya.
Perjalanan selama ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani, aku yakin mungkin dari seribu orang hanya satu yang bisa. Tak ada orang yang menginginkan jauh dimata, tapi apa dayaku begini kenyataannya.
Bukan hal yang mudah dijalani, semua berjalan tidak sesuai perkiraan. Disaat aku jauh. disaat itu juga menjadi sebuah kesempatan baginya. Kebohongan-kebohongan tak pernah luput dariku walaupun semua itu terasa sangat amat menyakitkan. Tak apa, aku sudah mulai terbiasa meneteskan air mata. Sedikit manjauh, itu yang aku lakukan agar dia sedikit tahu bahwa keadaan itu sangat menyakitkan untukku. Keadaan menjadi berbeda, semua seperti diputar 180 derajat. "Tak perhatian" menjadi sudut pandang darinya untukku. Memang, sesuatu tak akan pernah sama jika dipandang dari sudut pandang yang berbeda. Aku mencoba untuk mengerti dan mengalah..
Keadaan seperti ini terjadi berulang, berulang, dan berulang. Sampai tepat 24 Agustus 09 menjadi puncak kesedihanku. Untungnya hari itu bulan ramadhan, aku menyendiri di Maskam Gama dan merenungi semuanya.
Kini semuanya semakin berbeda jauh dengan yang kuharapkan, tak ada satupun yang tak sirna. Akhir penantian selama setahun ini telah terjawab, semua yang kulakukan ternyata sia-sia. Sepertinya memang tak akan pernah berubah. Harusnya tepat tanggal 22 ini, aku memberikan bunga yang dia berikan 3 bulan lalu untukku dengan mengucapkan "met ultah.." dan merayakan bersama seperti janji yang telah kita buat. Tetapi memang inilah kenyataannya, penantian yang tak membuahkan hasil, penantian yang tak akan merubah keadaan, penantian yang sia-sia. Sebenarnya aku masih bisa melanjutkan semuanya, walaupun akhirnya aku akan sakit hati setiap waktu. Maaf, aku memilih jalan lain, karena aku tahu aku tak akan pernah sedikitpun berarti bagimu.

"Benar-benar aku menyesal kenal dengan dia, bukan dia yang kulihat kurang lebih empat tahun silam dengan seragam OR SMP hitam kuning yang dipakainya. Tetepi dia yang lebih memilih mengorbankan persahabatannya demi sebuah cinta"




ren.putra
22 feb '09

No comments: